OJS tidak tahu artikelnya dikutip berapa kali
Kalau Anda sudah membaca panduan soal menampilkan jumlah pembaca artikel, mungkin Anda berasumsi data sitasi juga tersimpan di suatu tempat di OJS dan tinggal ditampilkan. Sayangnya tidak. Sitasi adalah data yang sepenuhnya berada di luar sistem Anda.
OJS tahu berapa kali artikel dibuka dan diunduh karena itu terjadi di server Anda sendiri. Tapi OJS tidak tahu berapa kali artikel itu dikutip di tempat lain, karena informasi itu dimiliki oleh layanan pengindeks: Google Scholar, Crossref, Scopus, dan sejenisnya. OJS tidak pernah bertanya ke sana.
Jadi tidak seperti views yang cuma perlu ditampilkan, sitasi harus ditarik dulu dari sumber luar, baru bisa diperlihatkan.
1. Sumber data sitasi yang tersedia
Tidak semua sumber sama. Ini yang perlu Anda tahu sebelum memilih:
Untuk sebagian besar jurnal Indonesia yang targetnya Sinta, Google Scholar adalah sumber yang paling mencerminkan kenyataan karena di sanalah sitasi dari jurnal nasional lain paling banyak tercatat.
- Google Scholar: cakupan paling luas untuk jurnal Indonesia karena mengindeks hampir semua jurnal OJS tanpa syarat membership. Tidak ada API resmi yang terbuka, jadi pengambilan datanya butuh mekanisme tersendiri. Ini sumber yang paling relevan untuk jurnal Sinta karena mayoritas sitasi tercatat di sini.
- Crossref Cited-by: data akurat dan terstruktur, tapi hanya mencatat sitasi dari jurnal yang juga mendepositkan referensinya ke Crossref. Banyak jurnal Indonesia belum melakukannya, jadi angka di sini biasanya jauh lebih rendah dari Scholar.
- OpenAlex: gratis dan API-nya terbuka, tapi cakupan jurnal Indonesia masih terbatas dibanding Scholar. Bagus sebagai sumber tambahan, belum memadai sebagai sumber utama.
- Scopus: hanya mencatat sitasi dari jurnal yang sudah terindeks Scopus. Untuk jurnal yang belum terindeks di sana, angkanya akan nol walau artikelnya sebenarnya banyak dikutip.
2. Cara manual: bisa tapi tidak bertahan
Pendekatan paling sederhana: buka Google Scholar, cari artikel Anda, catat angka sitasinya, lalu tampilkan secara statis di halaman jurnal. Beberapa pengelola melakukannya lewat custom block di sidebar atau menambahkan teks di metadata artikel.
Ini berhasil untuk satu dua artikel. Masalahnya muncul kalau jurnal Anda punya ratusan artikel:
Pendekatan manual wajar kalau Anda hanya ingin menonjolkan lima atau sepuluh artikel terbaik. Untuk seluruh jurnal, ini tidak skala.
- Data sitasi berubah setiap minggu. Angka yang Anda catat hari ini sudah basi minggu depan.
- Tidak ada notifikasi dari Scholar saat sitasi naik. Anda harus mengecek satu per satu secara berkala.
- Menyalin angka ke ratusan halaman secara manual butuh waktu yang tidak sebanding dengan hasilnya.
- Kalau ada kesalahan salin, angka yang tampil bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari kenyataan, dan itu merusak kredibilitas.
3. Apa yang sebenarnya ingin ditampilkan
Dari pengalaman jurnal yang sudah melakukannya, yang paling berdampak bukan menampilkan sitasi per artikel satu per satu di setiap halaman, melainkan menampilkan daftar artikel paling banyak disitasi di halaman depan jurnal.
Ini bekerja karena tiga alasan:
Bentuknya sederhana: daftar lima sampai sepuluh artikel dengan judul, penulis, dan angka sitasi, biasanya ditampilkan di sidebar atau di bagian bawah halaman utama jurnal. Kalau angkanya diperbarui otomatis, urutan daftarnya juga ikut berubah sesuai perkembangan nyata.
- Calon penulis yang membuka halaman jurnal langsung melihat bahwa artikel di sini benar benar dikutip orang lain. Itu sinyal kualitas yang instan.
- Asesor tidak perlu membuka satu per satu artikel untuk mencari bukti dampak. Daftar ringkasnya sudah ada.
- Pembaca yang sedang mencari referensi langsung tahu artikel mana yang paling berpengaruh di jurnal ini.
4. Kenapa ini tidak bisa dikerjakan dari dalam OJS
Tidak seperti views yang datanya sudah di tabel lokal, sitasi butuh koneksi keluar ke layanan pengindeks. OJS tidak menyediakan mekanisme untuk ini karena memang bukan domain fungsinya. OJS mengelola proses editorial dan menerbitkan artikel, bukan memantau dampak setelah terbit.
Jadi apa pun pendekatannya, baik manual maupun otomatis, datanya harus datang dari luar. Pertanyaannya tinggal siapa yang mengambilnya dan seberapa sering.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah data sitasi di Google Scholar akurat?
Scholar menghitung berdasarkan referensi yang ia temukan di dokumen lain yang ia indeks. Angkanya bisa lebih rendah dari kenyataan kalau dokumen yang mengutip belum terindeks, dan bisa lebih tinggi kalau ada duplikat. Tapi untuk gambaran umum dampak artikel di ranah jurnal Indonesia, Scholar adalah sumber paling representatif yang ada saat ini.
Apakah menampilkan sitasi bisa menyebabkan masalah hukum?
Menampilkan angka sitasi dari sumber publik untuk artikel Anda sendiri bukan pelanggaran. Yang bermasalah adalah mengklaim sitasi yang tidak ada, memanipulasi angkanya, atau menyalin data terstruktur milik layanan berbayar tanpa izin. Selama sumber datanya jelas dan angkanya sesuai kenyataan, tidak ada masalah.
Kenapa angka sitasi di Scholar berbeda dengan di Scopus?
Karena cakupan sumbernya berbeda. Scholar menghitung dari semua dokumen yang ia indeks termasuk tesis, buku, dan jurnal tidak terindeks Scopus. Scopus hanya menghitung dari jurnal yang terdaftar di database mereka. Keduanya benar menurut definisinya masing masing, hanya basis datanya yang beda.
Butuh bantuan yang lebih spesifik untuk jurnal Anda? Buka tiket bantuan.
